Masih Ada Tempat Bermain

Rabu, 31 Maret 2010


DISADARI atau tidak, pesatnya pembangunan di Bali telah menghilangkan area bagi anak-anak untuk bermain atau melakukan aktivitas seusianya. Akibatnya, anak-anak sekarang lebih akrab dengan pusat permainan yang ada di supermarket atau pusat perbelanjaan.

Mereka tak lagi mengenal lingkungannya secara langsung. Dan, lebih akrab dengan tokoh imajinasi yang ada di pusat permainan yang terkadang dijadikan alternatif penitipan bagi para orang tua saat shoping. Meski demikian, masih ada secercah harapan bagi anak-anak di Bali.

Nun jauh di kaki Gunung Agung, tepatnya di Desa Munti Gunung, masih terhampar luas perkebunan kering yang ditanami kacang mete. Di tempat itu juga, anak-anak setempat sering bermain. Dahan pohon mete yang relatif pendek mereka jadikan ayun-ayunan. Seperti yang dilakukan tiga anak Munti Gunung beberapa waktu lalu. Di pohon itulah mereka bermain dengan leluasa.(rul)

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Apaan Nih?

Tidak Ada yang Istimewa. Memang begitulah blog ini. Blog ini cuma memang untuk  menyampaikan isi kepala saja. Sampah-sampah pikiran yang mungkin masih bisa didaur ulang. Bukankah, daur ulang sangat diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah di seluruh permukaan bumi. Akibat aktivitas manusia. Ah, sudahlah. Tidak perlu bersusah hati, apalagi membaca blog ini dengan segala teori-teori. Baca apa adanya saja. OK

Siapa Si Ragil?

Bali, Indonesia
Si Ragil, tokoh fiktif yang bukan siapa-siapa. Dia ada di sela-sela kehidupan. Dia hanya bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Seperti yang dia tuangkan dalam blog yang juga menjadi rumahnya di dunia maya.

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP