Nginjak Bumi, Tradisi Unik Kampung Grembeng

Senin, 08 Maret 2010

DALAM sepuluh hari lagi, kalender islam akan memasuki bulan Rabiul Akhir. Meski demikian, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau kerap disebut Maulid Nabi masih tetap berlangsung di Karangasem. Perayaannya masih bisa ditemukan di beberapa kampung Muslim di Karangasem dengan berbagai tradisi unik khas wilayah setempat.

Di Kampung Gerembeng Atas contohnya. Kemarin, Minggu (7/3), perayaan Maulud Nabi dilaksanakan dengan tradisi Ngurisang. Tradisi ini dilakukan dengan cara menguris rambut puluhan bayi di kampung setempat. Prosesi pemotongan rambut bayi tersebut diiringi dengan pembacaan Shalawat. Kalau dilihat sepintas, tradisi ini menunjukan adanya akulturasi Hindu dan Islam. Karena dalam pelaksanaannya banyak mempergunakan kembang dan air.

Tradisi ini sendiri terbagi dalam tiga tahapan. Setelah pemotongan rambut bayi, tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan Mejurag atau melempar uang koin yang bercampur kembang. Mejurag ini dilakukan di halaman masjid dan diikuti oleh ratusan anak-anak. Mereka berusaha untuk mendapatkan uang koin pecahan Rp 500 atau Rp 1.000 yang dilempar tersebut.

Selanjutnya, tradisi ini kemudian disusul dengan upacara Nginjak Gumi. Pada tahapan ini, bayi yang telah dipotong rambutnya dimandikan dengan air kembang. Setelah itu, orang tuanya menuntun sang bayi untuk menginjakan kakinya ke atas sejumlah sarana yang ditempatkan di atas tanah.

"Kalau Ngurisang bermakna pembersihan. Sedangkan Nginjak Bumi maknanya agar si anak nanti bisa berdiri dan menjalani kehidupannya dengan mandiri tanpa ada kekurangan apapun," ujar Rohani, salah seorang ibu yang bayinya mengikuti proses tersebut.

Meski tahapan utama sudah selesai, tradisi yang berkembang di Kampung Grembeng tersebut ternyata belum usai. Di akhir acara, masih ada kegiatan pemotongan nasi Kebuli. Nasi berbahan beras ketan ini dicampur dengan ayam suwir dan lawar kelapa. Campuran tersebut kemudian dibentuk menjadi tumpengan besar.

Dan, seperti perayaan Maulid yang biasa ditemukan di Bali, pembagian nasi Kebuli ini disertai dengan pembagian telur hias kepada para undangan yang hadir. Sementara para anak-anak kemudian melanjutkan kegiatan dengan mengikuti panjat pinang.(rul)

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Apaan Nih?

Tidak Ada yang Istimewa. Memang begitulah blog ini. Blog ini cuma memang untuk  menyampaikan isi kepala saja. Sampah-sampah pikiran yang mungkin masih bisa didaur ulang. Bukankah, daur ulang sangat diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah di seluruh permukaan bumi. Akibat aktivitas manusia. Ah, sudahlah. Tidak perlu bersusah hati, apalagi membaca blog ini dengan segala teori-teori. Baca apa adanya saja. OK

Siapa Si Ragil?

Bali, Indonesia
Si Ragil, tokoh fiktif yang bukan siapa-siapa. Dia ada di sela-sela kehidupan. Dia hanya bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Seperti yang dia tuangkan dalam blog yang juga menjadi rumahnya di dunia maya.

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP