Meamian-amianan, Suka Cita Para Dewa

Rabu, 31 Maret 2010


KARANGASEM ternyata punya segudang tradisi unik yang masih tetap lestari hingga saat sekarang. Selain Geret Pandan di Tenganan, Ter Teran di Jasi, masih ada tradisi unik lainnya yang cukup menarik untuk ditonton. Di Desa Adat Asak, Kecamatan Karangasem, ada tradisi Meamian-amianan yang hanya digelar pada Purnama Kedasa selama dua tahun sekali.

Dalam tahun ini, tradisi itu kembali digelar sejak Selasa (30/3) yang lalu hingga Rabu (31/3) kemarin. Para warga terutama kaum lelaki berkumpul di Pura Desa Adat Asak sekitar pukul 16.00 untuk bersiap mengarak jempana yang menjadi tempat pretima (benda suci milik desa).

Jempana tersebut kemudian digotong ke Beji Toya Ijeng yang berjarak sekitar satu kilometer dari pura. Sesuai namanya, Beji merupakan sumber mata air yang sangat disucikan. Sehingga di tempat itu pula seluruh jempana disucikan.

Yang menarik dari prosesi ini adalah aksi saling sogok-menyogok antara pengusung jempana. Ini berlangsung sekembalinya dari proses penyucian di beji dan sebelum jempana kembali distanakan di Bali Agung.

Pada momen ini, dipercaya ada kekuatan niskala yang mendorong para pengusungnya untuk melakukan aksi sogok-menyogok. Sumber kekuatan niskala itu terletak pada jempana yang diusung. Bahkan, bila mau jempana tersebut bisa mendorong pengusungnya berlari sejauh-sejauhnya hingga desa tertentu.

Menurut tokoh masyarakat Desa Adat Asak I Nyoman Winata, tradisi ini sudah diwariskan turun temurun. Sehingga tak bisa diketahui secara pasti sejak kapan tradisi ini dimulai. Meski demikian, oleh warga setempat tradisi ini wajib dilakukan pada Purnama Kedasa selama dua tahun sekali. Sebagai bentuk ucapan syukur kepada Ida Betara.

“Meamian-amianan sendiri merupakan padanan dari melila cita. Sehingga meamian-amianan bisa dimaknai sebagai pestanya para dewa,” jelas Winata.

Sebelum meamian-amianan dilaksanakan, ada beberapa prosesi yang mesti dilakukan. Dan, rentang waktunya terbilang cukup panjang. Untuk kali ini saja, prosesi sudah dimulai sejak 25 Maret yang lalu dengan kegiatan melasti. Kemudian tuhunan teruna (pengukuhan pemuda secara adat) pada 28 Maret yang lalu. Meyaban dan nyolahang Ida Betara pada 29 Maret malam. “Sebelum meamian-amianan digelar ada beberapa upacara yang harus dilakukan. Makanya prosesinya cukup lama,” tandas Winata. (rul)

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Apaan Nih?

Tidak Ada yang Istimewa. Memang begitulah blog ini. Blog ini cuma memang untuk  menyampaikan isi kepala saja. Sampah-sampah pikiran yang mungkin masih bisa didaur ulang. Bukankah, daur ulang sangat diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah di seluruh permukaan bumi. Akibat aktivitas manusia. Ah, sudahlah. Tidak perlu bersusah hati, apalagi membaca blog ini dengan segala teori-teori. Baca apa adanya saja. OK

Siapa Si Ragil?

Bali, Indonesia
Si Ragil, tokoh fiktif yang bukan siapa-siapa. Dia ada di sela-sela kehidupan. Dia hanya bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Seperti yang dia tuangkan dalam blog yang juga menjadi rumahnya di dunia maya.

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP