Menengok Perayaan Tumpek Wayang

Selasa, 09 Februari 2010

Dirayakan Secara Terbatas, Tapi Diyakini Bisa Menolak Bala

Kemarin, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wayang. Perayaannya dilakukan dengan cara mengupacarai benda-benda seni, utamanya wayang. Sebagian umat Hindu yakin, mengupacarai wayang bisa menghindarkan segala bentuk marabahaya pada diri manusia. Seperti apa?

MENDUNG tebal ditambah hujan deras mengguyur kota Amlapura sejak pagi kemarin, Sabtu (6/2). Meski kondisi cuaca seperti itu terlihat kurang bersahabat, keluarga Jro Dalang Ketut Segara tak begitu menggubrisnya. Mereka terlihat sibuk mempersiapkan sesajian untuk mengupacarai lembar demi lembar wayang yang dimilikinya. Satu per satu wayang dikeluarkan dari keropaknya, kemudian ditancapkan pada batang pisang yang sudah dipersiapkan di salah satu sudut areal puranya.

Tak berapa lama, sanak saudara Dalang Ketut Segara datang. Begitu juga dengan beberapa masyarakat Hindu lainnya, juga datang ke tempat Jro Dalang yang bermukim di Lingkungan Pendem tersebut. Tepat sekitar pukul 09.00, upacara dimulai. Seiring dengan tuntasnya persiapan sarana upacara yang terdiri dari berbagai jenis sesajian.

Sekitar dua jam lamanya, kegiatan persembahyangan berlangsung. Begitu selesai, ada beberapa diantara mereka diperciki air suci. Sejurus kemudian, kegiatan persembahyangan tersebut selesai. Dalang Ketut Segara pun bergegas memasukan seperangkat wayang yang dimiliki ke dalam keropak.

“Upacaranya sudah selesai. Tinggal nanti malam pentas di Desa Bugbug. Di sana saya mau memainkan wayang Sapuh Leger. Karena di sana ada orang yang kebetulan lahir pada Wuku Wayang,” kata Dalang Ketut Segara.

Sambil melanjutkan ceritanya, Dalang Ketut Segara menyulutkan api pada ujung rokok Malboro Putih yang sudah ditahan bibirnya. Dengan mulut yang mengeluarkan asap, Jro Dalang menuturkan bahwa sebagian besar umat Hindu di Bali sejatinya sudah paham mengenai tujuan Tumpek Wayang.

“Cuma ada juga yang salah kaprah. Bahwa Tumpek Wayang hanya diartikan untuk mengupacarai wayang saja. Gamelan juga semestinya di upacarai. Khusus upacara pada wayangnya, secara harfiah bukan wayangnya yang diupacarai. Melainkan manifestasinya. Bukannya wayang itu sebagai cermin kehidupan,” kata dia.

Menurutnya, pertunjukan wayang di Bali sesungguhnya bukan sekadar tontonan semata. Bagi mereka yang memahami filosofinya, wayang sebetulnya memberikan tuntunan kepada para penonton agar berlaku baik dalam kesehariannya.

“Ini yang saya maksud manifestasi. Dalam wayang, ada rwa bhineda (unsur baik buruk,Red). Unsur yang buruk tidak perlu dipersoalkan lagi. Tapi unsur yang buruk, tentu harus dihindari. Bagaimana caranya? Ya dengan mengupacarai wayang tersebut,” tegasnya.

Disamping itu, katanya, upacara Tumpek Wayang juga sebagai waktu untuk melakukan pengelukatan (ruwatan). Terutama bagi mereka yang lahir pada Wuku Wayang. Mereka yang lahir di wuku ini harus diruwat agar tidak terkena sial.

Kepercayaan tersebut didasari pada keyakinan mengenai cerita Sapuh Leger. Secara sepintas, ceritanya mengenai Dewa Kumara yang diburu oleh Betara Kala. Lantaran Dewa Kumara lahir pada wuku Wayang. “Kepercayaan ini pun ada kaitannya dengan cerita Sapuh Leger. Makanya, cerita yang dimainkan untuk ngelukat pasti itu,” jelasnya.

Meski demikian, menurut Dalang Ketut Segara, tidak banyak yang melakukan upacara saat Tumpek Landep. Selama ini, yang melakukannya hanya kalangan dalang atau umat Hindu yang meyakini pentingnya upacara Tumpek Landep dilakukan.

“Selama ini, yang bikin upacara hanya kalangan dalang saja. Serta mereka yang lahir di Wuku Wayang. Masyarakat umum, jarang membikin upacara seperti ini,” bebernya.

Padahal, kata dia, semestinya upacara tersebut tetap dilakukan. Karena upacara saat Tumpek Landep tak hanya diharuskan dalam Dharma Pewayangan saja. Melainkan diharuskan pula dalam Lontar Kala Purana Tatwa. Menurut Dalang Ketut Segara, kedua rujukan tersebut saling terkait.

“Mereka yang belum pernah tahu isi lontar itu antara percaya atau tidak. Padahal, semestinya membuat upacara. Meski sederhana sekalipun dan tidak punya wayang sama sekali. Yang penting niatnya,” pungkasnya. (chairul amri simabur)

2 komentar:

Anonim,  22 April, 2016  

Amor Ring Acintya Jro Dalang ketut segara, semoga damai dalam sunya.svaha.

yinna coo 12 Januari, 2018  

http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/tak-hanya-sedap-bawang-merah-punya-10.html
http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/9-trik-restoran-yang-buat-anda-boros.html
http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/sering-lupa-intip-cara-mudah-mengatur.html

QQTAIPAN .ORG | QQTAIPAN .NET | TAIPANQQ .VEGAS
-KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
1 user ID sudah bisa bermain 7 Permainan.
• BandarQ
• AduQ
• Capsa
• Domino99
• Poker
• Bandarpoker.
• Sakong
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• WA: +62 813 8217 0873
• BB : D60E4A61
• BB : 2B3D83BE
Come & Join Us!

Posting Komentar

Blog Apaan Nih?

Tidak Ada yang Istimewa. Memang begitulah blog ini. Blog ini cuma memang untuk  menyampaikan isi kepala saja. Sampah-sampah pikiran yang mungkin masih bisa didaur ulang. Bukankah, daur ulang sangat diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah di seluruh permukaan bumi. Akibat aktivitas manusia. Ah, sudahlah. Tidak perlu bersusah hati, apalagi membaca blog ini dengan segala teori-teori. Baca apa adanya saja. OK

Siapa Si Ragil?

Bali, Indonesia
Si Ragil, tokoh fiktif yang bukan siapa-siapa. Dia ada di sela-sela kehidupan. Dia hanya bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Seperti yang dia tuangkan dalam blog yang juga menjadi rumahnya di dunia maya.

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP